6 Fakta Sekolah Inklusi yang Harus Diketahui

Apakah Anda pernah mendengar istilah sekolah inklusi? Belakangan model sekolah inklusi pun menjadi kian mengemukakan karena memungkinkan orang-orang dengan disabilitas atau keterbatasan tertentu bisa belajar bersama anak-anak tanpa keterbatasan di satu sekolah. Dengan demikian, diharapkan akses untuk mendapatkan pengajaran dan ilmu yang setara dengan anak-anak “normal” dapat diperoleh sehingga kesempatan untuk masa depan yang lebih baik lebih besar diterima oleh anak-anak berkebutuhan khusus. 

Sekolah inklusi pun dinilai membeli banyak keuntungan bukan hanya bagi siswa berkebutuhan khusus, melainkan juga bagi anak-anak yang normal. Dengan melihat anak-anak berkebutuhan khusus tiap harinya serta belajar bersama mereka, diharapkan diskriminasi dapat dihapuskan. Tenggang rasa dari diri anak-anak normal terhadap anak-anak berkebutuhan khusus pun diharapkan mampu terbentuk dari pendidikan di sekolah inklusi. 

Berikut ini adalah beberapa fakta soal sekolah inklusi yang sebaiknya Anda pahami lebih jauh. Dengan demikian, Anda dapat mempertimbangan dengan lebih bijak untuk menyekolahkan buah hati Anda di sekolah biasa atau sekolah inklusi. 

Proporsi yang Diatur 

Anak-anak berkebutuhan khusus telah menjadi bagian yang pasti ada dalam tiap lembaga pendidikan yang menyebut dirinya sebagai sekolah inklusi. Namun, bukan berarti sebuah sekolah inklusi menerima sebanyak-banyaknya anak berkebuhan khusus atau penyandang disabilitas untuk masuk ke sekolah tersebut dan belajar bersama anak-anak normal. 

Aturan yang ada saat ini adalah persentase anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi hanya berkisar 5—10 persen dari total seluruh kapaitas siswa yang ada di sekolah tersebut. Jadi apabila total siswa di suatu sekolah inklusi ada 200 orang, setidaknya batas maksimal anak berkebutuhan khusus di tempat tersebut tidak lebih dari 20 orang. 

Dalam Satu Kelas 

Sekolah inklusi bukan hanya memastikan anak-anak berkebutuhan khusus bisa belajar bersama di satu sekolah dengan siswa tanpa kebutuhan khusus. Sekolah inklusi juga tidak boleh memisahkan anak-anak berkebutuhan khusus di kelas tersendiri, melainkan harus bergabung langsung dengan teman-temannya yang normal. 

Jadi, tiap kelas yang ada di sekolah inklusi harus memiliki beberapa anak berkebutuhan khusus. Proporsinya sendiri tetap hanya berkisar 5—10 persen dari jumlah siswa di kelas yang dimaksud. 

Bukan Hanya untuk Sejenis Disabilitas 

Ketika berbicara mengenai sekolah inklusi, banyak pertanyaan mengenai jenis disabilitas apa saja yang diterima di sekolah jenis tersebut. Apakah anak-anak dengan gangguan sindrom tertentu bisa belajar di sana? Atau justru, anak-anak dengan kondisi ketidakmampuan secara pancaindera tidak bisa mengenyam pendidikan di sekolah inklusi?

Jawabannya, semua jenis disabilitas yang memiliki tingkat keparahan ringan sampai berat diizinkan mengambil pendidikan di sekolah inklusi. Anak yang autis sampai anak yang memiliki masalah dengan pendengaran ataupun bisu tetap bisa memperoleh pendidikan di sekolah tersebut. 

Perbedaan Gaya Belajar, Bukan Kurikulum 

Kurikulum yang diterapkan di sekolah inklusi umumnya tidak berbeda dengan kurikulum yang diberlakukan di sekolah biasa. Di mana anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan memperoleh pelajaran yang sama dengan anak normal, tanpa harus mengorbankan kepentingan anak normal di sekitarnya. 

Yang berbeda di sekolah inklusi dibandingkan sekolah biasa justru terlihat pada gaya belajar. Pengajaran di sekolah inklusi akan terlihat cenderung lebih lamban dan perlahan guna memastikan tiap murid, khususnya yang berkebutuhan khusus, bisa ikut memahami pelajaran yang disampaikan. 

Bukan Hanya Satu Pengajar 

Rata-rata sekolah normal umumnya hanya memiliki satu pengajar di kelas untuk tiap jenis pelajaran. Namun, keunikan tersendiri dimiliki oleh sekolah inklusi. Sekolah yang mengizinkan pembauran antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal ini umumnya memiliki metode pengajaran kolaboratif. 

Artinya, pengajar di satu kelas untuk satu mata pelajar umumnya dua orang. Satu pengajar lebih berfungsi untuk mengajar secara biasa kepada seluruh anak-anak. Sementara itu, satu  pengajar lain berkolaborasi mengajar untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang memerlukan fokus lebih dalam. 

Sekarang sudah lebih paham mengenai fakta-fakta soal sekolah inklusi, bukan? Tidak ada salahnya menyekolah anak Anda di jenis sekolah ini untuk bisa memperbesar tenggang rasa dan memahami perbedaan antara manusia. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *