Category: Obat

Hal Penting yang Perlu Diperhatikan Pada Penggunaan Furosemide

Bagi penderita darah tinggi, tentu sudah tidak asing dengan obat furosemide. Obat ini bisa mengobati berbagai penyakit lain seperti gagal jantung, ginjal, dan penyakit hati. Furosemide adalah obat diuretik untuk mengatasi edema. Fungsi furosemide bagi tubuh adalah untuk membuang kelebihan garam dan air. Meski demikian penggunaan furosemide perlu diperhatikan dengan seksama guna meminimalisir efek samping yang ditimbulkan. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.

Efek samping furosemide

Furosemide dapat menimbulkan berbagai jenis efek samping. Efek samping tersebut terbagi menjadi efek samping yang ringan dan efek samping berat. Berikut penjelasan lengkapnya.

  • Efek samping ringan

Efek samping ringan yang muncul di antaranya adalah pusing, mual, diare, sakit kepala, kram perut, penglihatan kabur, gatal, ruam kulit, serin buang air kecil, vertigo. Selain itu, reaksi alergi tergolong sebagai efek samping ringan dengan gejala seperti ruam, gatal, kulit menjadi bengkak. Pada efek samping ringan nantinya akan bisa sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari atau maksim 14 hari.

  • Efek samping berat

Pada efek samping berat, beberapa hal yang bisa timbul yaitu gangguan hati, penurunan kadar hormon tiroid, kekurangan cairan, peradangan pankreas, kehilangan pendengaran dan penglihatan, kulit melepuh, dan reaksi alergi hebat. Reaksi alergi yang ditandai dengan kesulitan bernapas, mengi, sesak di tenggorokan, serta ruam kullit parah perlu ditangani segera. Semua efek samping berat membutuhkan penanganan dari dokter dan penggunaan furosemide harus dihentikan total.

Kondisi dilarang menggunakan furosemide

Berikut ini akan dijelaskan beberapa kondisi tertentu yang sebaiknya menghindari penggunaan furosemide. Meski furosemide dapat dikonsumsi oleh orang dewasa maupun anak-anak, namun penderita penyait tertentu dilarang mengonsumsi furosemide.

  1. Tekanan darah rendah
  2. Kondisi penumpukan asam urat
  3. Sulit buang air kecil
  4. Diabetes atau gangguan hati
  5. Adanya riwayat alergi furosemide
  6. Gejala dehidrasi
  7. Gangguan pada keljar adrenal (penyakit Addison)
  8. Intoleransi tubuh terhadap laktosa dalam susu, maltitol dalam sirup jagung, serta berbagai jenis gula lainnya.

Interaksi dengan obat lain

Terdapat banyak jenis obat yang berinteraksi dengan furosemide sehingga Anda perlu mewaspadai penggunaan obat yang bersamaan. Berikut ini merupakan beberapa jenis obat yang meningkatkan efek samping atau mengubah kinerja obat saat tercampur dengan furosemide. Selain daftar obat yang nantinya disebutkan, bisa saja ada obat lain yang dapat berinteraksi dengan furosemide sehingga penggunaannya bersama obat lain perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

  1. Laksatif seperti Dulcolax, Epsom salt, Metamucil, Milk of Magnesia, dan lainnya.
  2. Steroids seperti Prednisone.
  3. Antibiotik termasuk jenis amikacin, gentamicin, kanamycin, cefprozil, cefuromixe, dan lainnya.
  4. Lithium seperti Edkalith dan Lithobid.
  5. Phenytoin seperti Dilantin.
  6. Cisplatin seperti Platinol.
  7. Ethacrynic acid seperti Edecrin.
  8. Obat jantung atau tekanan darah termasuk jenis ramipil, candesartan, amiodarone, benazepril, olmesartan, telmisatran, dan lainnya.
  9. Cyclosporine seperti Neoral, Gengraf, dan Sandimmune.

Furosemide perlu disimpan dalam suhu ruangan dan tidak di area lembab. Obat ini juga sebaiknya tidak disimpan di area yang terkena matahari langsung. Agar lebih rinci dan jelas, Anda dapat memperhatikan instruksi yang terdapat pada kemasan. Bertanya langsung pada dokter juga dapat dilakukan melalui aplikasi SehatQ. Selain itu, furosemide sebaiknya tidak dibuang sembarangan apalagi disiram ke dalam toilet tanpa instruksi jelas dari petugas medis.

Fungsi Serum Mata, Berbeda Dengan Krim

Dengan krim mata dan produk kecantikan lain yang sudah Anda miliki, apakah serum mata diperlukan? Apa sebenarnya fungsi serum mata?

Mungkin Anda lebih mengenal krim mata dan kulit dibandingkan dengan serum. Apa perbedaan antara dua produk tersebut? Pada dasarnya, krim dan serum memberikan manfaat yang sama. Apalagi dengan formulasi yang dimaksudkan untuk digunakan di sekitar mata Anda.

Perbedaan antara keduanya lebih dari sekedar konsistensi. Krim mata memiliki tekstur yang lebih kental sedangkan serum lebih seperti gel. Tekstur keduanya sangat penting, namun hal tersebut tidak langsung terlihat. Pada umumnya, kulit Anda lebih mudah menyerap serum di bawah mata karena konsistensinya seperti gel atau encer.

Cara untuk membedakan krim dan serum mata adalah membedakan fungsi preventif dan restoratif. Berikut beberapa fungsi serum mata yang sangat bermanfaat:

  • Serum mata mengatasi masalah kerutan

Penggunaan rutin serum mata yang baik dapat memberikan perbaikan yang nyata pada keriput secara umum. Hal ini karena serum mata biasanya mengandung Retinol A, yang bertanggung jawab untuk merangsang produksi kolagen.

  • Berfungsi menjaga elastisitas

Kulit Anda menghasilkan lebih sedikit elastin seiring bertambahnya usia. Menggunakan serum mata memperbaiki kerusakan dengan mendorong kulit Anda memproduksi lebih banyak elastin. Selain menghasilkan lebih banyak elastin, serum mata juga membantu kulit mempertahankan elastin yang sudah ada.

  • Mengurangi lingkar hitam

Karena kulit di sekitar mata Anda adalah bagian kulit yang paling tipis, kecepatan penyerapannya menjadi lebih baik. Serum mata meningkatkan sirkulasi darah dengan memasok lebih banyak oksigen ke pembuluh darah di dekat kulit Anda. Serum mata sangat bagus untuk sirkulasi darah yang lebih baik di dekat kulit dan untuk lingkaran hitam pada bagian mata.

Dengan mempertimbangkan fungsi dan manfaatnya, perlu diingat bahwa serum mata tidak semuanya dibuat sama. Seperti halnya setiap produk kecantikan, merek yang berbeda memiliki kualitas dan biaya yang berbeda pula.

Domperidone untuk Tingkatkan Produksi ASI, Amankah?

Setiap ibu menyusui tentu ingin memberikan produksi ASI terbaik bagi sang buah hati. Tidak heran, berbagai cara akan dilakukan oleh para ibu menyusui untuk dapat melakukan program ASI eksklusif hingga sang buah hati berusia 6 bulan, seperti mengonsumsi obat tertentu obat untuk memproduksi ASI. Salah satu obat yang seringkali digunakan, yaitu domperidone.

Pada dasarnya, domperidone adalah obat yang memiliki fungsi untuk meningkatkan gerak usus (prokinetik) dan memiliki efek anti mual dan anti muntah. Salah satu efek samping yang telah diketahui dari mengonsumsi domperidone adalah pembesaran kelenjar payudara, sehingga dapat menyebabkan produksi ASI lebih banyak dari kelenjar susu. Domperidone bekerja dengan memberikan rangsangan produksi hormon prolaktin yang memiliki fungsi untuk memproduksi ASI.

Namun sayangnya, hingga saat ini, belum terdapat panduan medis mengenai penggunaan obat domperidone sebagai galactagogue (penambah produksi ASI). di samping itu, belum terdapat juga studi yang mengonfirmasi apakah domperidone aman dikonsumsi oleh ibu menyusui. Pasalnya, apa pun yang dikonsumsi oleh ibu menyusui akan diterima juga oleh sang buah hati. Disebutkan bahwa, mengonsumsi domperidone tidak lebih baik daripada memperbaiki pelekatan bayi ke payudara ibu ketika menyusui.

Sementara itu di Amerika Serikat, konsumsi obat domperidone sebagai penambah produksi ASI dilarang. Hal tersebut didasarkan pada fakta bahwa domperidone memberikan efek samping terhadap jantung yang dianggap berbahaya. Konsumsi domperidone, terutama jika diberikan kepada kelompok rentan, yaitu yang berusia lebih dari 60 tahun maupun kelompok usia lain yang menerima dosis obat lebih dari 30 mg per hari, dapat memicu kelainan pada irama jantung hingga kematian mendadak.

Program pemberian ASI eksklusif bagi bayi perlu untuk selalu didukung. Penting untuk melihat efek samping domperidone sebagai penambah ASI sebaiknya dilihat satu kasus per kasus agar tidak mengurangi kesempatan seorang ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada sang buah hati. Namun, penting bagi ibu menyusui untuk waspada terhadap efek samping yang mungkin muncul.

Perhatikan Efek Samping Obat Sakit Gigi Asam Mefenamat Berikut Ini

Bagi Anda yang sering mengalami sakit gigi hingga terasa ngilu dan nyeri pada bagian kepala, mungkin Anda telah akrab dengan obat sakit gigi asam mefenamat. Asam mefenamat adalah jenis obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) yang dapat bermanfaat untuk meredakan rasa nyeri karena sakit gigi.

Memang, obat ini dapat Anda beli di apotek maupun toko obat terdekat. Namun sebenarnya, untuk mendapatkan obat ini Anda membutuhkan resep khusus dokter. Pasalnya, asam mefenamat dapat menimbulkan efek samping serius jika tidak dikonsumsi sesuai dengan aturan.

Sebagai contoh, dokter biasanya meresepkan obat ini hanya untuk dikonsumsi selama 7 hari saja. Dosis yang diberikan pun adalah dosis terendah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya pendarahan di bagian perut.

Di samping itu, asam mefenamat tidak boleh dikonsumsi oleh orang-orang dengan kondisi medis tertentu, seperti gagal ginjal, radang usus, hipersensitif pada obat asam mefenamat, aspirin, asma, maupun indikasi tertentu pada obat OAINS lain.

Sebagai catatan tambahan, orang dengan kondisi medis seperti di bawah ini, memerlukan konsultasi dengan dokter terlebih dulu jika ingin mengonsumsi asam mefenamat:

  • Ibu hamil dan menyusui.
  • Memiliki riwayat kesehatan penyakit jantung.
  • Pernah mengalami gangguan pada ginjal atau hati.
  • Memiliki riwayat perdarahan pada saluran pencernaan maupun tukak saluran pencernaan.
  • Adanya riwayat mengalami retensi cairan maupun gagal jantung.

Apa saja efek samping yang mungkin dapat terjadi dari konsumsi asam mefenamat yang tidak sesuai dengan aturan?

Beberapa gejala yang telah dilaporkan terjadi akibat dari konsumsi asam mefenamat, antara lain rasa nyeri pada perut yang disertai mual atau nyeri pada ulu hati, sakit kepala, rawan mengantuk, hingga diare.

Dalam kasus yang lebih serius, efek samping yang mungkin dialami oleh pasien, antara lain:

  • Sakit kepala berat.
  • Tekanan darah meningkat.
  • Perubahan pendengaran.
  • Detak jantung yang tidak teratur.
  • Perubahan warna urin menjadi lebih gelap.
  • Alergi yang serius.
  • Pingsan.
  • Gagal jantung..

Jika Anda mengalami gejala seperti di atas setelah mengonsumsi asam mefenamat, maka segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan lebih dini.