Category: Obat

Bolehkan Paracetamol Digunakan untuk Obati Sakit Kepala?

Bolehkan Paracetamol Digunakan untuk Obati Sakit Kepala?

Acetaminophen atau paracetamol merupakan obat yang digunakan untuk penurun demam dan pereda nyeri seperti nyeri haid dan sakit gigi. Selain itu juga tersedia paracetamol untuk sakit kepala dalam bentuk tablet, sirup, drop, infus dan suppositoria. Paracetamol bekerja dengan cara mengurangi produksi zat yang menyebabkan peradangan, yakni prostaglandin.

Obat paracetamol biasa digunakan untuk menurunkan demam, meredakan gejala flu dan pilek hingga menyembuhkan sakit kepala serta sakit gigi. Meski demikian, sama seperti obat-obatan medis lainnya dalam mengonsumsi paracetamol juga menimbulkan efek samping tertentu. Kondisi ini harus diwaspadai banyak orang yang akan mengonsumsi obat ini.

Paracetamol untuk Sakit Kepala

Paracetamol dapat diminum saat seseorang mengalami sakit kepala, obat ini bermanfaat dalam menghilangkan rasa sakit dan pereda demam non-opioid, termasuk dalam kelompok obat yang dikenal sebagai analgesik. Paracetamol mampu dipakai sebagai pereda nyeri ringan hingga sedang yang muncul karena sakit kepala, termasuk sakit gigi, nyeri otot dan sendi hingga nyeri haid.

Baik pada anak-anak maupun orang dewasa, obat ini sebaiknya hanya dikonsumsi saat hanya benar-benar dibutuhkan. Seperti diberikan ketika demam tinggi dan membuat anak-anak yang mengalami tidak bisa beristirahat, merasa lemah hingga tidak memiliki nafsu makan. Obat ini bisa dikonsumsi secara oral dalam bentuk tablet, kaplet dan sirup.

Kandungan obat ini akan masuk ke dalam ussu dan beredar ke seluruh tubuh untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam. Batas maksimal konsumsi paracetamol untuk dewasa sebanyak 100 mg per dosis dan 4000 mg per hari, untuk anak-anak di atas usia 2 tahun disesuaikan dengan berat badan bukan usia, harus sesuai petunjuk dokter.

Upayakan memberikan paracetamol kepada anak dengan menggunakan sendok takar khusus, tujuannya untuk menghindari kesalahan dalam pemberian dosis. Untuk anak-anak paracetamol bisa diberikan setiap 6 jam sekali, namun jika tak kunjung turun hingga lebih dari tiga hari segera konsultasikan ke dokter karena dikhawatirkan ada infeksi bakteri.

Efek Samping Paracetamol

Paracetamol untuk sakit kepala yang dikonsumsi menimbulkan efek samping yang sebenarnya termasuk jarang terjadi. Meski demikian, kondisi ini tetap harus diwaspadai karena jika dibiarkan akan berakibat fatal, berikut di antaranya efek samping tersebut.

  • Reaksi alergi, kondisi ini bisa menimbulkan kulit ruam atau pembengkakan di mana satu dari 100 orang dapat mengalami efek samping ini.
  • Tekanan darah rendah dan detak jantung cepat, sering kali paracetamol yang diberikan dalam bentuk suntikan ketika pasien dirawat di rumah sakit.
  • Gangguan darah, seperti trombositopenia atau jumlah trombosit yang rendah dan leukopenia yakni jumlah sel darah putih yang rendah. Efek ini termasuk yang jarang terjadi, hanya satu dari 1000 kasus berisiko mengalami kondisi ini.
  • Gangguan pada hati dan ginjal, kerusakan hati dan ginjal bisa terjadi jika obat ini dikonsumsi dengan dosis terlalu banyak, ini merupakan efek samping yang paling parah.
  • Overdosis obat, paracetamol aman digunakan sesuai petunjuk dosis karena obat ini umum diolah ke dalam banyak obat lain dan pasien akan mengonsumsi lebih dari dosis secara tidak sadar.

Konsumsi paracetamol yang berlebihan meningkatkan risiko kerusakan hati yang parah, kondisi ini ditandai dengan beberapa gejala yang muncul dan dirasakan oleh pasien yang mengonsumsi obat ini, berikut beberapa di antaranya gejala tersebut.

  • Kulit dan mata menguning.
  • Mual dan muntah.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Nyeri di bagian kanan atas perut.
  • Kelelahan.
  • Berkeringat lebih banyak.
  • Kulit pucat.
  • Memar dan pendarahan yang tidak wajar.
  • Urine atau feses berwarna gelap.

Bahan Alami Antiperadangan, Bisakah Jadi Pengganti Piroxicam?

Mekanisme alamiah tubuh dalam merespons cedera memungkinkan timbulnya peradangan. Ketika sel darah putih tengah berjibaku melawan penyebab infeksi, seperti bakteri atau virus, secara alami tubuh juga akan mengalami peradangan. Artinya peradangan adalah sesuatu yang normal, kendati kerap kali menyakitkan atau menimbulkan bengkak. Kita bisa mengonsumsi obat-obatan NSAID untuk mengatasi peradangan, salah satunya adalah Piroxicam.

Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Obat antiinflamasi non steroid (OAINS) adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengurangi peradangan, sehingga meredakan nyeri dan menurunkan demam. Banyak sekali kegunaan dari obat ini, utamanya yang diakibatkan oleh proses alami peradangan tersebut.

Adapun Piroxicam sendiri adalah obat yang digunakan untuk meredakan rasa sakit seperti bengkak, peradangan, nyeri sendi, dan kekakuan sendi. Obat ini tersedia dalam berbagai sediaan, mulai dari tablet; kapsul; hingga gel. Piroxicam hanya bisa digunakan dengan resep dokter karena memiliki berbagai kemungkinan efek samping bagi beberapa kalangan orang.

Piroxicam juga memiliki banyak kemungkinan berinteraksi dengan penggunaan obat lain, sehingga obat ini tak dapat digunakan secara bebas. Jika dalam satu waktu Anda mengalami peradangan, tetapi tak dapat mengonsumsi Piroxicam, mungkin beberapa bahan alami di bawah ini bisa dijadikan sebagai pengganti:

  • Alpukat. Buah yang masuk dalam makanan antiperadangan alami adalah alpukat. Kandungannya sangat baik yaitu potasium, magnesium, serat, dan lemak tunggal tak jenuh. Tak hanya itu, alpukat juga mengandung karotenoid dan tocopherols yang bisa mengurangi risiko kanker.
  • Jamur. Jenis jamur yang termasuk dalam daftar makanan antiperadangan alami adalah truffle, portobello, dan shitake. Jamur sangat kaya akan selenium, copper, dan vitamin B. Belum lagi kandungan antioksidan yang melimpah. Sangat disarankan mengonsumsi jamur yang tidak melalui proses pengolahan terlalu panjang. Proses masak bisa saja mengurangi kandungan anti inflamatori dalam jamur.
  • Kunyit. Rempah-rempah yang satu ini juga tak kalah populer berkat kandungan curcumin yang bisa mengatasi peradangan. Kunyit sangat efektif mengatasi peradangan yang berhubungan dengan artritis layaknya obat NSAID, termasuk Piroxicam.
  • Minyak zaitun. Minyak zaitun adalah jenis lemak yang sangat menyehatkan. Ia termasuk sebagai makanan antiradang yang sangat ampuh. Dalam sebuah studi juga dibuktikan bahwa minyak zaitun dapat menurunkan peradangan pada partisipan yang mengonsumsi 50 mililiter minyak zaitun per harinya.
  • Dark chocolate. Tak hanya lezat dan jadi favorit banyak orang, dark chocolate rupanya juga termasuk dalam daftar makanan anti inflamasi alami. Kandungan flavanol di dalam cokelat kaya antioksidan ini dapat menjaga kondisi pembuluh darah dalam tubuh. Dark chocolate yang ampuh menjadi anti inflamasi alami adalah yang mengandung setidaknya 70% cocoa. Semakin banyak, akan semakin baik bagi tubuh.
  • Anggur. Anggur rupanya juga masuk dalam daftar makanan antiinflamasi alami. Manfaat itu didapat dari kandungan antosianin yang bisa mengurangi peradangan dalam tubuh.
  • Brokoli. Sayuran yang satu ini juga menjadi salah satu makanan anti inflamasi alami. Mengonsumsi brokoli bahkan dapat menekan risiko mengalami kanker dan jantung. Semua ini terjadi berkat kandungan sulforaphane, antioksidan yang menekan level cytokines dan NF-kB penyebab peradangan.
  • Ikan berlemak. Ikan dengan kandungan lemak tinggi adalah sumber protein dan asam lemak omega-3 yang baik. Contoh ikan yang paling baik adalah salmon, sarden, mackerel, dan ikan bilis. Kandungan asam lemak dalam ikan akan melalui proses metabolisme tubuh menjadi resolvins dan protectins yang merupakan zat anti inflamasi alami.

Kendati demikian, seseorang tetap disarankan melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Mungkin, bahan-bahan alami di atas benar-benar dapat menjadi alternatif pengganti Piroxicam. Namun, mungkin saja bahan-bahan alami di atas tak berpengaruh apa-apa atau malah menimbulkan efek samping lainnya.

Eryra Forte

Eryra Forte

Eryra Forte merupakan jenis obat yang dapat mengatasi berbagai infeksi yang disebabkan oleh bakteri seperti infeksi saluran pernafasan dan infeksi saluran kemih. Obat Eryra Forte merupakan salah satu obat yang dapat diperoleh melalui resep dokter. Oleh karena itu, pasien perlu menggunakan obat tersebut dengan hati-hati.

Obat Eryra Forte diproduksi oleh Rama Emerald Multi Sukses dan dijual di pasaran di Indonesia dengan harga sekitar Rp 18.000,00 dalam kemasan 1 box yang berisi 10 kaplet sebanyak 500 mg.

Informasi Zat Aktif

Obat Eryra Forte mengandung zat aktif erythromycin. Erythromycin merupakan antibiotik makrolida yang sensitif baik terhadap bakteri Gram positif maupun Gram negatif yang dapat menimbulkan infeksi pada tubuh manusia. Obat tersebut memiliki kegunaan dalam membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri. Meskipun dapat menghilangkan bakteri di dalam tubuh, obat tersebut tidak dapat digunakan untuk mengatasi flu.

Sesuai dengan proses kerja obat dalam tubuh, erythromycin memiliki status sebagai berikut:

  • Absorpsi

Obat yang mengandung erythromycin dapat diabsorpsi dengan bentuk garam.

  • Distribusi

Erythromycin bisa tersebar luas ke seluruh jaringan dan tubuh manusia dan melintasi plasenta dan memasuki ASI.

  • Metabolisme

Erythromycin dimetabolisme secara parsial di hati.

  • Ekskresi

Erythromycin diekskresikan melalui feses dan urine.

Manfaat Obat Eryra Forte

Jika Anda mengkonsumsi obat Eryra Forte, Anda akan memperoleh manfaat berikut:

  • Mengatasi infeksi saluran pernafasan akibat (bakteri) Streptococcus pyogenes dan Streptococcus pneumonia.
  • Mengatasi infeksi kulit dan jaringan lunak akibat Streptococcus pyogenes dan Streptococcus aureus.
  • Mengatasi infeksi menular seksual akibat bakteri yang terjadi pada pasien yang alergi terhadap penisilin.
  • Mengatasi infeksi pada saluran pernafasan dan paru-paru akibat Bordetella pertussis.
  • Mengatasi infeksi akibat mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi Listeria monocytogenes.
  • Mengatasi peradangan pada uretra akibat bakteri Gram negatif.

Dosis Obat Eryra Forte

Selain manfaat, Anda juga perlu pahami bahwa Anda harus menggunakan obat Eryra Forte sesuai yang dianjurkan dokter. Berikut adalah dosis yang dapat dikonsumsi:

  • Dewasa

Dosis yang digunakan pasien dewasa adalah 250 hingga 500 mg sebanyak 2 kali sehari.

  • Anak-anak

Dosis yang digunakan pasien anak-anak adalah 30 hingga 50 mg/kgBB sehari yang dibagi menjadi 3 hingga 4 dosis.

Obat Eryra Forte perlu dikonsumsi sebelum waktunya makan.

Efek Samping Obat Eryra Forte

Obat Eryra Forte juga dapat menimbulkan efek samping sebagai berikut:

  • Sakit perut

Jika Anda sakit perut, Anda sebaiknya beristirahat. Setelah itu, Anda dapat mengkonsumsi makanan, namun dalam porsi secukupnya jika perut Anda belum merasa pulih total.

  • Diare

Jika Anda mengalami diare, Anda sebaiknya minum air putih, namun jangan mengkonsumsinya dalam jumlah yang terlalu banyak.

  • Mual

Jika Anda merasa mual, Anda sebaiknya hindari makanan yang sulit dicerna dan jangan langsung berbaring setelah makan. Selain itu, Anda sebaiknya mengkonsumsi makanan dalam porsi yang kecil terlebih dahulu jika kondisi Anda belum sepenuhnya pulih.

  • Muntah

Jika Anda muntah, Anda sebaiknya beristirahat dengan berbaring dan jangan mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang berlebihan sampai Anda sepenuhnya pulih.

Jika Kondisi Anda Memburuk

Jika kondisi Anda memburuk, Anda sebaiknya hubungi dokter. Sebelum bertemu dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Daftar pertanyaan yang ingin Anda ajukan ke dokter.
  • Daftar gejala yang Anda alami.
  • Daftar riwayat medis (jika diperlukan).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Berapa lama gejala tersebut terjadi?
  • Apakah Anda memiliki penyakit tertentu?

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter dapat menentukan pengobatan untuk mengatasi kondisi yang Anda alami.

Kesimpulan

Obat Eryra Forte dapat Anda gunakan untuk mengatasi infeksi pada tubuh. Meskipun demikian, Anda perlu perhatikan penggunaannya dan obat tersebut dapat menimbulkan berbagai efek samping. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa tanyakan ke dokter tentang obat Eryra Forte.

Pengenal Obat Ofloxacin, Antibiotik untuk Atasi Infeksi Bakteri

Apa itu obat ofloxacin? Ini adalah obat yang berguna untuk mengobati berbagai jenis infeksi bakteri. Obat yang satu ini termasuk dalam klasifikasi antibiotik quinolone yang bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri.

Mengenal Obat Ofloxacin dan Manfaatnya

Antibiotik jenis ini hanya mengatasi infeksi bakteri dan tidak akan bekerja untuk mengatasi infeksi akibat virus.

Penting untuk diingat bahwa penyalahgunaan antibiotik atau penggunaan yang tidak perlu akan membuat efektivitasnya tidak seperti semula lagi.

Obat ofloxacin ini tersedia dalam bentuk tetes mata, tetes telinga, suntik, dan tablet.

Secara umum, manfaat antibiotik ofloxacin adalah untuk mengatasi infeksi bakteri. Selain itu, ada beberapa kondisi yang bisa diatasi dengan ofloxacin ini, yaitu:

  • Klamidia
  • Otitis media
  • Infeksi saluran kemih
  • Prostatitis akut
  • Infeksi kulit dan jaringan lunak
  • Infeksi saluran pernapasan bawah
  • Penyakit radang panggul
  • Otitis eksterna
  • Konjungtivitis

Efek Samping Ofloxacin

Sama seperti obat lainnya, penggunaan ofloxacin ini juga memiliki efek samping tertentu. Namun, bukan berarti efek samping akan pasti muncul pada setiap pemakaian obat, ya.

Antibiotik ofloxacin ini bisa menyebabkan efek samping seperti mual, diare, mengalami sakit perut, sakit kepala, sulit tidur, pusing, ruptur tendon, tendinitis, neuropati perifer, keputihan, ruam, perut kembung, anemia, batuk, rinore, merasa haus, kehilangan berat badan, pruritus, henti nafas, pruritus genital eksternal, peningkatan ringan AST serum, eosinofilia, leukopenia, terasa tidak nyaman bola mata dan iritasi.

Penting untuk diperhatikan, bila efek samping yang dirasakan semakin memburuk, segeralah untuk menghubungi dokter agar mendapat penanganan medis segera.

Selain itu, ada pula efek samping yang serius, meskipun jarang terjadi, yaitu:

  • Pusing berat
  • Mengalami demam secara terus menerus
  • Detak jantung bisa menjadi lebih cepat atau melambat
  • Pingsan

Ada juga kemungkinan efek samping yang belum disebutkan di atas. Jika mengalami berbagai efek samping yang dijelaskan di atas, maka bisa tanyakan pada dokter atau tenaga medis segera.

Peringatan dan Perhatian Ofloxacin

Obat ini haruslah digunakan dengan resep dokter. Tidak boleh digunakan sembarangan karena tergolong obat keras. Berikut beberapa hal yang dapat diperhatikan saat menggunakan obat ini, yaitu:

  • Harus berhati-hati jika penggunaannya pada pasien yang punya riwayat gangguan psikiatrik dan juga gangguan fungsi hati
  • Penggunaan obat tidak disarankan dalam jangka waktu panjang
  • Tidak disarankan untuk digunakan pada pasien yang mengalami hipersensitif terhadap obat ini serta komponen-komponen lain yang terkandung dalam obat ini.
  • Berhati-hati jika digunakan oleh pasien yang punya riwayat alergi terhadap antibiotik jenis lain
  • Jangan menggunakan obat ini jika akan berkendara atau akan mengoperasikan mesin karena bisa menurunkan tingkat kewaspadaan

Interaksi Obat Ofloxacin

Jika obat ofloxacin ini digunakan bersamaan dengan obat lain, mungkin saja akan muncul interaksi obat. Itulah kenapa perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat secara bersamaan.

Berikut beberapa interaksi obat yang dapat muncul jika digunakan secara bersamaan dengan obat berikut ini:

  • Jika digunakan bersamaan dengan kortikosteroid bisa meningkatkan risiko gangguan tendon berat
  • Bila digunakan dengan aminoglikosida dapat menyebabkan aktivitas antibakteri aditif
  • Jika digunakan dengan NSAID dapat meningkatkan risiko stimulasi susunan saraf (SSP)
  • Bila digunakan dengan antasida yang terkandung Al, Ca, atau pun Mg, maka bisa menurunkan konsentrasi serum dan urin
  • Dapat meningkatkan risiko efek  samping theophylline jika efektivitas teofilin serum tinggi dan terjadi berkepanjangan
  • Dapat meningkatkan risiko perpanjangan interval QT apabila ofloxacin digunakan bersamaan dengan agen antiaritmia kelas IA atau kelas III.

Kapan Waktunya Meminum Antibiotik untuk Sinusitis?

Saat terjadi infeksi sinus, sinus dan saluran hidung Anda akan mengalami peradangan. Kondisi peradangan inilah yang disebut dengan sinusitis. Salah satu cara mengobatinya adalah dengan mengonsumsi antibiotik untuk sinusitis.

Antibiotik merupakan jenis obat yang sering digunakan untuk mengobati infeksi. Ada beberapa jenis antibiotik yang tersedia, masing-masing dengan cara kerja yang berbeda. Beberapa antibiotik mampu menyerang infeksi akibat virus, sementara beberapa antibiotik lainnya mungkin efektif mengobati infeksi dari bakteri.

Akan tetapi, ada juga antibiotik yang berperan untuk mengobati berbagai jenis infeksi, baik itu infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun jamur.

Tanda-tanda sinusitis perlu diobati dengan antibiotik

Sebenarnya ada beberapa cara pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengobati sinusitis. Antibiotik hanyalah salah satu cara yang cukup umum digunakan.

Secara khusus, antibiotik untuk sinusitis hanya diberikan apabila penderita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah. Tubuh mereka tidak mampu melawan infeksi yang menyebabkan sinusitis.

Contohnya adalah orang-orang yang menderita sinusitis disertai dengan kondisi medis lainnya, seperti diabetes, penyakit jantung, atau penyakit paru-paru yang serius.

Selain itu, antibiotik juga bisa diberikan kepada penderita dengan gejala yang semakin memburuk, atau penderita yang tidak kunjung sembuh setelah mendapatkan pengobatan lain dalam 7 hari.

Cara minum antibiotik untuk sinusitis

Dosis dan anjuran pemakaian antibiotik berbeda-beda pada setiap pasien, tergantung jenis antibiotik yang digunakan dan anjuran dokter. Akan tetapi, umumnya antibitoik harus diminum selama 10 sampai 14 hari.

Sebaiknya, minum antibiotik sampai habis sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan oleh dokter. Jangan menghentikan pemakaian sebelum memenuhi periode waktu yang ditetapkan, bahkan setelah gejala sinusitis Anda hilang sekalipun.

Hal ini penting guna menghindari kambuhnya infeksi dan memastikan infeksi telah disembuhkan sampai tuntas.

Salah satu jenis antibiotik yang biasanya diberikan kepada penderita sinusitis adalah amoksisilin atau amoksisilin klavulanat. Ini adalah pilihan antibiotik pertama bagi penderita yang tidak memiliki alergi terhadap penisilin.

Menentukan jenis antibiotik untuk sinusitis

Antibiotik yang diberikan kepada penderita sinusitis akan disesuaikan dengan faktor yang menyebabkan peradangan sinus. Untuk itu, dokter perlu mengetahui apakah infeksi disebabkan oleh virus atau bakteri.

Membedakan infeksi virus dan bakteri pada penderita sinusitis mungkin akan cukup menyulitkan. Karena, gejala yang ditimbulkan dari kedua jenis infeksi ini sangat serupa.

Untuk memastikan hal tersebut, dokter akan melakukan proses diagnosa dan pemeriksaan berupa:

  • Memeriksa gejala

Dokter akan menanyakan apa saja gejala yang Anda alami. Gejala yang umum timbul berupa batuk dan sakit kepala, nyeri atau ketidaknyamanan di sekitar mata dan pipi, serta hidung tersumbat.

  • Pemeriksaan fisik

Setelah menanyakan kepada Anda mengenai gejala yang dialami, dokter juga bisa melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menekan satu jari ke kepala dan pipi Anda.

Cara ini dilakukan guna mendeteksi adanya tekanan atau kelembutan yang tidak biasa padaa area di sekitar kepala dan pipi Anda. Mereka juga mungkin akan memeriksa bagian dalam hidung untuk mencari tanda-tanda peradangan.

  • Tes pencitraan

Tes pencitraan sebenarnya hanya dilakukan pada penderita sinusitis yang sudah parah. Tes ini meliputi CT Scan atau MRI untuk melihat bagian dalam saluran pernapasan dan sinus Anda.

Berdasarkan hasil diagnosa, dokter bisa mengenali gejala serta penyebab infeksi yang Anda alami. Dari situlah, dokter akan menentukan jenis antibiotik untuk sinusitis yang paling tepat bagi Anda.

Hal Penting yang Perlu Diperhatikan Pada Penggunaan Furosemide

Bagi penderita darah tinggi, tentu sudah tidak asing dengan obat furosemide. Obat ini bisa mengobati berbagai penyakit lain seperti gagal jantung, ginjal, dan penyakit hati. Furosemide adalah obat diuretik untuk mengatasi edema. Fungsi furosemide bagi tubuh adalah untuk membuang kelebihan garam dan air. Meski demikian penggunaan furosemide perlu diperhatikan dengan seksama guna meminimalisir efek samping yang ditimbulkan. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.

Efek samping furosemide

Furosemide dapat menimbulkan berbagai jenis efek samping. Efek samping tersebut terbagi menjadi efek samping yang ringan dan efek samping berat. Berikut penjelasan lengkapnya.

  • Efek samping ringan

Efek samping ringan yang muncul di antaranya adalah pusing, mual, diare, sakit kepala, kram perut, penglihatan kabur, gatal, ruam kulit, serin buang air kecil, vertigo. Selain itu, reaksi alergi tergolong sebagai efek samping ringan dengan gejala seperti ruam, gatal, kulit menjadi bengkak. Pada efek samping ringan nantinya akan bisa sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari atau maksim 14 hari.

  • Efek samping berat

Pada efek samping berat, beberapa hal yang bisa timbul yaitu gangguan hati, penurunan kadar hormon tiroid, kekurangan cairan, peradangan pankreas, kehilangan pendengaran dan penglihatan, kulit melepuh, dan reaksi alergi hebat. Reaksi alergi yang ditandai dengan kesulitan bernapas, mengi, sesak di tenggorokan, serta ruam kullit parah perlu ditangani segera. Semua efek samping berat membutuhkan penanganan dari dokter dan penggunaan furosemide harus dihentikan total.

Kondisi dilarang menggunakan furosemide

Berikut ini akan dijelaskan beberapa kondisi tertentu yang sebaiknya menghindari penggunaan furosemide. Meski furosemide dapat dikonsumsi oleh orang dewasa maupun anak-anak, namun penderita penyait tertentu dilarang mengonsumsi furosemide.

  1. Tekanan darah rendah
  2. Kondisi penumpukan asam urat
  3. Sulit buang air kecil
  4. Diabetes atau gangguan hati
  5. Adanya riwayat alergi furosemide
  6. Gejala dehidrasi
  7. Gangguan pada keljar adrenal (penyakit Addison)
  8. Intoleransi tubuh terhadap laktosa dalam susu, maltitol dalam sirup jagung, serta berbagai jenis gula lainnya.

Interaksi dengan obat lain

Terdapat banyak jenis obat yang berinteraksi dengan furosemide sehingga Anda perlu mewaspadai penggunaan obat yang bersamaan. Berikut ini merupakan beberapa jenis obat yang meningkatkan efek samping atau mengubah kinerja obat saat tercampur dengan furosemide. Selain daftar obat yang nantinya disebutkan, bisa saja ada obat lain yang dapat berinteraksi dengan furosemide sehingga penggunaannya bersama obat lain perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

  1. Laksatif seperti Dulcolax, Epsom salt, Metamucil, Milk of Magnesia, dan lainnya.
  2. Steroids seperti Prednisone.
  3. Antibiotik termasuk jenis amikacin, gentamicin, kanamycin, cefprozil, cefuromixe, dan lainnya.
  4. Lithium seperti Edkalith dan Lithobid.
  5. Phenytoin seperti Dilantin.
  6. Cisplatin seperti Platinol.
  7. Ethacrynic acid seperti Edecrin.
  8. Obat jantung atau tekanan darah termasuk jenis ramipil, candesartan, amiodarone, benazepril, olmesartan, telmisatran, dan lainnya.
  9. Cyclosporine seperti Neoral, Gengraf, dan Sandimmune.

Furosemide perlu disimpan dalam suhu ruangan dan tidak di area lembab. Obat ini juga sebaiknya tidak disimpan di area yang terkena matahari langsung. Agar lebih rinci dan jelas, Anda dapat memperhatikan instruksi yang terdapat pada kemasan. Bertanya langsung pada dokter juga dapat dilakukan melalui aplikasi SehatQ. Selain itu, furosemide sebaiknya tidak dibuang sembarangan apalagi disiram ke dalam toilet tanpa instruksi jelas dari petugas medis.

Fungsi Serum Mata, Berbeda Dengan Krim

Dengan krim mata dan produk kecantikan lain yang sudah Anda miliki, apakah serum mata diperlukan? Apa sebenarnya fungsi serum mata?

Mungkin Anda lebih mengenal krim mata dan kulit dibandingkan dengan serum. Apa perbedaan antara dua produk tersebut? Pada dasarnya, krim dan serum memberikan manfaat yang sama. Apalagi dengan formulasi yang dimaksudkan untuk digunakan di sekitar mata Anda.

Perbedaan antara keduanya lebih dari sekedar konsistensi. Krim mata memiliki tekstur yang lebih kental sedangkan serum lebih seperti gel. Tekstur keduanya sangat penting, namun hal tersebut tidak langsung terlihat. Pada umumnya, kulit Anda lebih mudah menyerap serum di bawah mata karena konsistensinya seperti gel atau encer.

Cara untuk membedakan krim dan serum mata adalah membedakan fungsi preventif dan restoratif. Berikut beberapa fungsi serum mata yang sangat bermanfaat:

  • Serum mata mengatasi masalah kerutan

Penggunaan rutin serum mata yang baik dapat memberikan perbaikan yang nyata pada keriput secara umum. Hal ini karena serum mata biasanya mengandung Retinol A, yang bertanggung jawab untuk merangsang produksi kolagen.

  • Berfungsi menjaga elastisitas

Kulit Anda menghasilkan lebih sedikit elastin seiring bertambahnya usia. Menggunakan serum mata memperbaiki kerusakan dengan mendorong kulit Anda memproduksi lebih banyak elastin. Selain menghasilkan lebih banyak elastin, serum mata juga membantu kulit mempertahankan elastin yang sudah ada.

  • Mengurangi lingkar hitam

Karena kulit di sekitar mata Anda adalah bagian kulit yang paling tipis, kecepatan penyerapannya menjadi lebih baik. Serum mata meningkatkan sirkulasi darah dengan memasok lebih banyak oksigen ke pembuluh darah di dekat kulit Anda. Serum mata sangat bagus untuk sirkulasi darah yang lebih baik di dekat kulit dan untuk lingkaran hitam pada bagian mata.

Dengan mempertimbangkan fungsi dan manfaatnya, perlu diingat bahwa serum mata tidak semuanya dibuat sama. Seperti halnya setiap produk kecantikan, merek yang berbeda memiliki kualitas dan biaya yang berbeda pula.

Domperidone untuk Tingkatkan Produksi ASI, Amankah?

Setiap ibu menyusui tentu ingin memberikan produksi ASI terbaik bagi sang buah hati. Tidak heran, berbagai cara akan dilakukan oleh para ibu menyusui untuk dapat melakukan program ASI eksklusif hingga sang buah hati berusia 6 bulan, seperti mengonsumsi obat tertentu obat untuk memproduksi ASI. Salah satu obat yang seringkali digunakan, yaitu domperidone.

Pada dasarnya, domperidone adalah obat yang memiliki fungsi untuk meningkatkan gerak usus (prokinetik) dan memiliki efek anti mual dan anti muntah. Salah satu efek samping yang telah diketahui dari mengonsumsi domperidone adalah pembesaran kelenjar payudara, sehingga dapat menyebabkan produksi ASI lebih banyak dari kelenjar susu. Domperidone bekerja dengan memberikan rangsangan produksi hormon prolaktin yang memiliki fungsi untuk memproduksi ASI.

Namun sayangnya, hingga saat ini, belum terdapat panduan medis mengenai penggunaan obat domperidone sebagai galactagogue (penambah produksi ASI). di samping itu, belum terdapat juga studi yang mengonfirmasi apakah domperidone aman dikonsumsi oleh ibu menyusui. Pasalnya, apa pun yang dikonsumsi oleh ibu menyusui akan diterima juga oleh sang buah hati. Disebutkan bahwa, mengonsumsi domperidone tidak lebih baik daripada memperbaiki pelekatan bayi ke payudara ibu ketika menyusui.

Sementara itu di Amerika Serikat, konsumsi obat domperidone sebagai penambah produksi ASI dilarang. Hal tersebut didasarkan pada fakta bahwa domperidone memberikan efek samping terhadap jantung yang dianggap berbahaya. Konsumsi domperidone, terutama jika diberikan kepada kelompok rentan, yaitu yang berusia lebih dari 60 tahun maupun kelompok usia lain yang menerima dosis obat lebih dari 30 mg per hari, dapat memicu kelainan pada irama jantung hingga kematian mendadak.

Program pemberian ASI eksklusif bagi bayi perlu untuk selalu didukung. Penting untuk melihat efek samping domperidone sebagai penambah ASI sebaiknya dilihat satu kasus per kasus agar tidak mengurangi kesempatan seorang ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada sang buah hati. Namun, penting bagi ibu menyusui untuk waspada terhadap efek samping yang mungkin muncul.

Perhatikan Efek Samping Obat Sakit Gigi Asam Mefenamat Berikut Ini

Bagi Anda yang sering mengalami sakit gigi hingga terasa ngilu dan nyeri pada bagian kepala, mungkin Anda telah akrab dengan obat sakit gigi asam mefenamat. Asam mefenamat adalah jenis obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) yang dapat bermanfaat untuk meredakan rasa nyeri karena sakit gigi.

Memang, obat ini dapat Anda beli di apotek maupun toko obat terdekat. Namun sebenarnya, untuk mendapatkan obat ini Anda membutuhkan resep khusus dokter. Pasalnya, asam mefenamat dapat menimbulkan efek samping serius jika tidak dikonsumsi sesuai dengan aturan.

Sebagai contoh, dokter biasanya meresepkan obat ini hanya untuk dikonsumsi selama 7 hari saja. Dosis yang diberikan pun adalah dosis terendah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya pendarahan di bagian perut.

Di samping itu, asam mefenamat tidak boleh dikonsumsi oleh orang-orang dengan kondisi medis tertentu, seperti gagal ginjal, radang usus, hipersensitif pada obat asam mefenamat, aspirin, asma, maupun indikasi tertentu pada obat OAINS lain.

Sebagai catatan tambahan, orang dengan kondisi medis seperti di bawah ini, memerlukan konsultasi dengan dokter terlebih dulu jika ingin mengonsumsi asam mefenamat:

  • Ibu hamil dan menyusui.
  • Memiliki riwayat kesehatan penyakit jantung.
  • Pernah mengalami gangguan pada ginjal atau hati.
  • Memiliki riwayat perdarahan pada saluran pencernaan maupun tukak saluran pencernaan.
  • Adanya riwayat mengalami retensi cairan maupun gagal jantung.

Apa saja efek samping yang mungkin dapat terjadi dari konsumsi asam mefenamat yang tidak sesuai dengan aturan?

Beberapa gejala yang telah dilaporkan terjadi akibat dari konsumsi asam mefenamat, antara lain rasa nyeri pada perut yang disertai mual atau nyeri pada ulu hati, sakit kepala, rawan mengantuk, hingga diare.

Dalam kasus yang lebih serius, efek samping yang mungkin dialami oleh pasien, antara lain:

  • Sakit kepala berat.
  • Tekanan darah meningkat.
  • Perubahan pendengaran.
  • Detak jantung yang tidak teratur.
  • Perubahan warna urin menjadi lebih gelap.
  • Alergi yang serius.
  • Pingsan.
  • Gagal jantung..

Jika Anda mengalami gejala seperti di atas setelah mengonsumsi asam mefenamat, maka segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan lebih dini.