Category: Uncategorized

6 Penyebab Bayi Sungsang yang Harus Bunda Waspadai

Pernahkah Anda mendengar istilah bayi sungsang? Mungkin sebagian pembaca di sini sudah tidak asing lagi dengan istilah tersebut. Bayi sungsang adalah suatu kondisi di mana kepala bayi berada di atas, sedangkan bagian kakinya di bawah dekat jalan lahir. Biasanya, kondisi bayi sungsang akan terlihat pada usia kehamilan 35 minggu ke atas melalui pemeriksaan USG (ultrasonografi).

bayi sungsang

Macam-macam kondisi bayi sungsang.

Normalnya, semakin mendekati hari perkiraan lahir (HPL), maka posisi kepala bayi akan mendekati jalan lahir. Namun, tidak jarang posisi kepala bayi gagal mendekati jalan lahir dan justru tetap berada di atas, sehingga kakinya yang di bawah. Dikutip dari Healthline, sekitar 3-4 persen kehamilan bisa mengalami kondisi bayi sungsang. Macam-macam bayi sungsang yang mungkin bisa terjadi adalah sebagai berikut.

  • Sungsang total (complete breech), yaitu posisi kaki dan bokong melipat layaknya sedang jongkok dan keduanya mengarah ke jalan lahir.
  • Sungsang frank (frank breech), yaitu posisi kaki lurus ke atas hingga mendekati kepala dan bagian bokong mendekati jalan lahir (seperti bentuk V).
  • Sungsang footling (footling breech), yaitu salah satu atau kedua kaki mengarah ke bawah dan akan keluar duluan saat lahir.

Mengapa bisa kondisi bayi sungsang?

Penyebab bayi sungsang kadang masih sulit ditentukan oleh dokter. Dikutip dari laman resmi What to Expect, diduga beberapa penyebab bayi lahir secara sungsang adalah sebagai berikut.

  1. Bentuk rahim (uterus) yang abnormal.

Umumnya, rahim berbentuk seperti buah pir terbalik yang berlubang. Sebagian wanita ada yang memiliki bentuk rahim berbeda dan mengalami cacat. Kondisi tersebut dapat dideteksi dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebelum atau selama kehamilan. Abnormalitas rahim merupakan bawaan dari lahir. Namun, bisa juga berkembang dari jaringan parut akibat proses persalinan secara sesar, fibroid (tumor jinak di dinding rahim), ataupun infeksi rahim yang parah. Akibatnya, bayi tidak memiliki cukup ruang untuk membalikkan tubuhnya, sehingga menyebabkan bayi sungsang.

  • Letak plasenta.

Jika posisi plasenta Anda menutupi bagian serviks atau terletak di bagian atas dinding rahim yang menghalangi kepala bayi Anda, maka kemungkinan besar bayi tidak dapat memutar bagian atas tubuhnya mendekati jalan lahir. Kondisi ini disebut juga dengan plasenta previa.

  • Volume cairan ketuban.

Para ahli menduga bahwa cairan ketuban yang terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat menyebabkan bayi sungsang. Bayi yang tidak memiliki cukup cairan di sekitarnya akan lebih sulit untuk berenang, alias bergerak bebas. Sementara, cairan ketuban yang terlalu banyak akan memperbesar ruang bayi untuk dapat beralih antara posisi sungsang dan posisi normal sampai melahirkan.

  • Adanya kelainan pada janin.

Dugaan ini muncul karena bayi yang memiliki gangguan pada sistem saraf otot maupun saraf pusat dapat meningkatkan risiko kelahiran bayi sungsang. Tali pusat yang pendek juga dapat membatasi gerakan bayi, sehingga berpeluang menyebabkan bayi sungsang. Meskipun begitu, faktor ini jarang sekali terjadi.

  • Kehamilan kembar (multiple).

Jika Anda hamil bayi kembar, maka salah satu atau lebih bayi mungkin saja tidak bisa mendapatkan posisi head-down (kepala yang di bawah). Hal ini karena ruang di dalam rahim ibu yang dibagi, sehingga kesempatan bayi untuk bergerak pun jadi terbatas.

  • Riwayat melahirkan prematur.

Selain beberapa penyebab di atas, ada faktor lain juga yang bisa memicu kondisi lahir bayi sungsang. Merujuk pada American Pregnancy Association, seorang wanita yang memiliki riwayat melahirkan prematur pada kehamilan sebelumnya juga bisa menjadi penyebab bayi sungsang.

Catatan dari SehatQ Jika Anda diberitahu oleh dokter bahwa kondisi bayi sungsang, maka jangan panik dulu. Anda masih dapat melahirkan secara normal jika dilakukan dengan pelaksanaan yang benar. Konsultasikan dengan dokter cara terbaik untuk bisa melahirkan bayi dengan sehat dan selamat. Dokter mungkin akan memberikan beberapa terapi untuk mengubah posisi bayi menjadi head-down. Apabila posisi bayi tetap sungsang, maka dokter mungkin tidak menyarankan Anda melahirkan normal, karena risiko cedera pada bayi juga akan semakin besar.

Rekomendasi Drama Korea Tentang Isu Kesehatan Mental

Dari tahun ke tahun, isu kesehatan mental semakin ramai diperbincangkan. Di Korea Selatan pun, isu ini menjadi suatu topik baru yang dianggap menarik oleh publik. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya kemunculan drama korea yang mengusung tema kesehatan mental sebagai dasar dari cerita.

drama korea

Kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan emosional dan psikologis. Di era teknologi seperti sekarang ini, perubahan gaya hidup secara tidak langsung menjadi salah satu faktor yang bisa mempengaruhi kondisi emosional seseorang.

Selama beberapa tahun terakhir, topik mengenai kesehatan mental semakin meningkat. Tren di media sosial pelan-pelan beralih ke tema kesehatan mental. Selain itu, muncul juga berbagai situs dan aplikasi khusus untuk mendukung kondisi psikologis penggunanya.

Drama korea populer tentang isu kesehatan mental

Apabila tren drama di Korea Selatan di awal tahun 2000-an berfokus pada tema fantasi dan fiksi ilmiah, kini tren tersebut mulai bergeser ke isu kesehatan mental. Lalu, apa saja drama korea yang mengangkat topik kesehatan mental sebagai jalan cerita utamanya?

Berikut ini beberapa rekomendasi drama korea mengenai kesehatan mental yang bisa menjadi tontonan Anda di akhir pekan.

  • It’s Okay, That’s Love

Pecinta drama korea tentunya tahu drama yang satu ini. Pada tahun 2014 lalu, drama ini sempat ramai diperbincangkan karena pemerannya yang populer serta ceritanya yang mengangkat isu kesehatan mental.

Secara khusus, drama ini membahas mengenai beberapa penyakit psikologis berupa genophobia, sindrom Tourrette, dan skizofrenia yang diderita oleh salah satu pemeran utamanya. Karena keterbukaan drama ini terhadap penyakit tersebut, It’s Okay, That’s Love mendapat apresiasi dari Korean Society of Schizophrenia Research.

  • Kill Me, Heal Me

Drama Kill Me, Heal Me sempat menjadi sorotan karena menggunakan isu kepribadian ganda ke dalam alur ceritanya. Dalam drama korea ini, sang karakter utama diceritakan sebagai sosok yang memiliki tujuh kepribadian.

Ketujuh kepribadian dari sang tokoh utama terbentuk akibat adanya pengalaman traumatis. Meski terkesan suram, drama ini sebenarnya bergenre komedi romantis. Oleh sebab itu, adegan yang meliputi isu kesehatan mental dikemas ke dalam alur cerita yang inspiratif sekaligus menghibur.

  • Cheese in the Trap

Berbeda dengan dua drama yang disebutkan sebelumnya, drama Cheese in the Trap tidak menjadikan lingkungan rumah sakit dan kesehatan mental sebagai latar utama cerita. Akan tetapi, salah satu pemeran utama dalam drama ini diceritakan mengidap gangguan kepribadian antisosial.

Drama korea ini mengangkat topik mengenai kehidupan kaum muda di dunia perkuliahan. Berbagai konflik muncul akibat pengaruh dari kepribadian antisosial yang diderita oleh sang pemeran utama.

Cheese in the Trap merupakan drama yang diadaptasi dari serial webtoon asal Korea Selatan. Karena popularitasnya, drama ini juga sempat diadaptasi kembali ke layar lebar.

  • It’s Okay to Not be Okay

Rekomendasi terakhir adalah drama korea berjudul It’s Okay to Not be Okay yang belum lama ini baru saya ditayangkan di tvN, sebuah stasiun televisi nasional di Korea Selatan. Di dalam drama ini, masing-masing tokoh utama memiliki masalah psikologis tertentu.

Secara khusus, salah satu pemeran utama diceritakan memiliki gangguan kepribadian antisosial. Sementara pemeran utama lainnya mengalami trauma akibat kejadian buruk di masa lalu.

Selama beberapa pekan terakhir, drama ini menjadi drama dengan peringkat tertinggi karena alur ceritanya yang tak biasa serta pemilihan pemeran yang populer. Itulah drama korea yang secara khusus mengangkat isu kesehatan mental sebagai latar belakang utama dalam ceritanya. Anda bisa menyaksikan drama-drama tersebut melalui layanan streaming yang tersedia.