Mengenal Lebih Dekat dengan Keputihan yang Terjadi Pada Wanita

Keputihan merupakan suatu hal yang wajar terjadi dan dialami oleh setiap wanita. Biasanya, keputihan terjadi saat sebelum menstruasi dan saat kondisi ibu hamil. Namun, terkadang ada pula kondisi di mana wanita telat haid tapi negatif dan keputihan. Kondisi ini biasanya terjadi karena adanya gangguan hormon atau mengidap penyakit tertentu.

Keputihan sendiri merupakan sebuah kondisi yang terjadi ketika lendir atau cairan keluar dari vagina. Keputihan adalah cara alami tubuh untuk menjaga kebersihan serta kelembaban organ kewanitaan pada wanita. Saat keputihan terjadi, cairan yang diproduksi oleh kelenjar vagina akan keluar dengan membawa berbagai sel mati dan bakteri. Akibatnya, vagina akan terlindungi dari berbagai infeksi dan bakteri.

Keputihan tergolong normal jika terjadi pada wanita pada masa menjelang menstruasi serta ibu hamil yang sedang mengalami perubahan hormon. Namun pada wanita yang telah mengalami menopause, keputihan sudah jarang terjadi, bahkan tidak terjadi lagi. Selain itu, terkadang juga bisa terjadi kondisi saat seorang wanita telat haid tapi negatif dan mengalami keputihan.

Keputihan Sebelum Haid

Keputihan sebelum haid memiliki volume yang tidak terlalu banyak, yaitu hanya 4 ml saja sehari atau setengah sendok makan. Pada kondisi normal, cairan keputihan ini akan menjadi lebih bersih dan berair dalam beberapa hari seiring dengan naiknya kadar hormon estrogen yang diproduksi.

Keputihan sebelum haid ini memiliki beberapa fase dengan ciri-ciri tertentu, antara lain:

  • Masa ovulasi: Keputihan berwarna putih, terlihat bersih, elastis serta berair. Jumlah keputihan tergolong banyak, namun tidak sebanyak saat masa sebelum ovulasi.
  • Setelah ovulasi: keputihan yang terjadi saat masa subur ini berlangsung selama 14 hari dengan tekstur yang lebih tebal dan volume lebih sedikit. Ibu bisa menggunakan pantylinsers selama masa ini karena waktunya yang agak panjang.
  • Sebelum menstruasi: Cairan keputihan berwarna putih dengan sedikit noda kekuningan. Volume tidak terlalu banyak namun dapat terjadi selama beberapa hari.
  • Setelah menstruasi: Cairan keputihan berwarna kecoklatan setelah darah kotor telah dikeluarkan semua. Cairan ini lebih mirip dengan flek yang terjadi setelah menstruasi.

Keputihan Pertanda Kehamilan

Keputihan tanda hamil kerap tidak disadari lantaran bisa muncul sebelum periode menstruasi. Keputihan ini umumnya terjadi pada minggu pertama hingga kedua setelah pembuahan berhasil.

Dilihat dari tekstur dan cirinya, keputihan tanda hamil atau yang dikenal dengan leukorrhea ini memiliki warna putih kental seperti susu, bertekstur tebal serta beraroma ringan. Karena tebal dan berwarna putih susu, banyak ibu yang sulit membedakan keputihan tanda hamil dengan keputihan yang terjadi saat masa subur. Keduanya memang sedikit mirip, namun keputihan tanda hamil memiliki volume yang banyak. Bahkan keputihan ini dapat terus terjadi hingga menjelang persalinan. Itulah sebabnya ibu hamil disarankan untuk menggunakan pantyliner tanpa pewangi selama masa kehamilan demi kenyamanan.

Hal yang Perlu Diwaspadai

Ibu harus waspada jika mengalami keputihan dengan ciri-ciri berikut ini:

  • Muncul rasa gatal dengan sensasi terbakar pada area vagina
  • Disertai dengan bau yang kurang sedap dan menusuk hidung
  • Berwarna kuning mencolok atau kehijauan
  • Jumlah cairan sangat banyak, bahkan lebih banyak dari hari biasanya
  • Disertai dengan rasa nyeri di area panggul

Gejala diatas bisa menjadi salah satu tanda infeksi pada area intim. Jika dibiarkan, dapat meningkatkan resiko keguguran. Oleh karena itu, Ibu perlu segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami keputihan yang tidak wajar.

Ada beberapa cara yang bisa Ibu lakukan untuk mengurangi resiko terjadinya keputihan yang tidak normal selama masa kehamilan, antara lain:

  • Memakai celana yang longgar dengan bahan yang nyaman
  • Hindari bahan celana dalam yang tidak menyerap keringat
  • Memakai tisu setelah menggunakan toilet agar organ intim tetap kering
  • Menjaga pola makan dengan gizi yang seimbang
  • Mengkonsumsi yogurt atau susu fermentasi untuk meningkatkan produksi bakteri baik di area vagina
  • Rajin membersihkan area kewanitaan
  • Hindari menggunakan sabun mandi saat membersihkan area vagina karena Ph pada kulit pada umumnya berbeda dengan area vagina
  • Gunakan pantyliner yang aman dan tidak mengandung parfum sehingga aman untuk area wanita
  • Hindari menggunakan toilet umum karena rentan terhadap kuman dan bakteri yang mengakibatkan infeksi
  • Tidak menahan kencing selama masa kehamilan dengan alasan apapun

Itulah penjelasan mengenai keputihan. Jadi, saat kamu merasakan kondisi telat haid tapi negatif dan mengalami keputihan, jangan ragu untuk segera konsultasi serta periksakan ke dokter. Semoga menambah wawasanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *